TRADE OFF INDUSTRY LOCAL: ESTIMATING FOREGONE AGRICULTURAL PRODUCTION POTENTIAL ASSOCIATED WITH BATIK INDUSTRY WASTEWATER
DOI:
https://doi.org/10.24843/EEB.2026.v15.i08.p05Kata Kunci:
Agricultural Land, Batik Waste, Economic Valuation, Foregone Production, Opportunity Cost, Pamekasan, Lahan Pertanian, Limbah Batik, Valuasi Ekonomi, Produksi yang Hilang, Biaya PeluangAbstrak
The batik industry in Pamekasan Regency provides economic benefits through income and employment, while wastewater management may affect the productive use of agricultural land. This study estimates the value of foregone agricultural production potential associated with agricultural land affected by batik wastewater. Data were collected through questionnaires from 74 batik business operators and secondary data on agricultural productivity and commodity prices. Using the Potential Production Loss Approach, the estimated annual value of foregone agricultural production potential for tobacco, corn, and cassava was Rp5,493,312. This figure, equivalent to about Rp74,234 per business per year, represents potential production associated with the affected land rather than a directly measured or causal economic loss. Tobacco accounts for the largest estimated value of foregone production potential, primarily because of its higher market price compared with cassava and corn. The findings provide an economic perspective on the potential implications of wastewater management for agricultural land use and highlight the importance of considering environmental management alongside the economic activities of the batik industry.
Industri batik di Kabupaten Pamekasan memberikan manfaat ekonomi melalui pendapatan dan lapangan kerja, sementara pengelolaan limbah cair berpotensi memengaruhi pemanfaatan produktif lahan pertanian. Penelitian ini bertujuan mengestimasi nilai potensi produksi pertanian yang hilang pada lahan yang terdampak limbah cair batik. Data diperoleh melalui kuesioner terhadap 74 pelaku usaha batik serta data sekunder mengenai produktivitas pertanian dan harga komoditas. Menggunakan Potential Production Loss Approach, estimasi nilai tahunan potensi produksi pertanian yang hilang untuk tembakau, jagung, dan singkong mencapai Rp5.493.312. Nilai tersebut, atau sekitar Rp74.234 per usaha per tahun, merupakan estimasi potensi produksi pada lahan terdampak, bukan kerugian ekonomi aktual yang diukur secara langsung atau bersifat kausal. Hasil estimasi menunjukkan bahwa tembakau memiliki nilai potensi produksi yang hilang paling besar, terutama karena harga pasarnya lebih tinggi dibandingkan dengan singkong dan jagung. Temuan ini memberikan gambaran mengenai potensi implikasi ekonomi dari pengelolaan limbah cair terhadap pemanfaatan lahan pertanian serta pentingnya mempertimbangkan pengelolaan lingkungan dalam aktivitas ekonomi industri batik.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Nadiya Husna, Norita Vibriyanto (Penulis)

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.











