Bakteri dan Jamur Penginfeksi Kulit Burung Kakatua (Cacatua sp.) yang Mengalami Alopesia di Bali Bird Park

Authors

  • I Gusti Ayu Oka Diva Santhini Program Sarjana Pendidikan Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia 80234 Author
  • Putu Ayu Sisyawati Putriningsih Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia 80234 Author
  • I Gusti Ngurah Kade Mahardika Laboratorium Biomedik dan Biologi Molekuler Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia 80234 Author

DOI:

https://doi.org/10.24843/imv.2025.v14.i02.p02

Keywords:

alopesia, bakteri, burung kakatua, jamur

Abstract

PENDAHULUAN: Burung kakatua (Cacatua sp.) merupakan salah satu burung eksotis yang banyak ditemukan secara endemik di Indonesia bagian tengah dan timur serta sering mengalami gangguan kesehatan, salah satunya adalah alopesia.  Alopesia pada burung kakatua dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk infeksi bakteri dan jamur.  Infeksi ini dapat memicu rasa gatal yang berlebihan, sehingga burung menggaruk atau mencabut bulunya sendiri, yang pada akhirnya
menyebabkan kebotakan (alopesia).
TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri dan jamur pada burung kakatua yang mengalami alopesia di Bali Bird Park.
METODE: Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui pengambilan sampel ulas/swab permukaan kulit delapan ekor dari beragam jenis burung kakatua yang mengalami alopesia. Sampel bakteri dikultur pada media Nutrient Agar, sedangkan jamur dikultur pada media Sabouraud Dextrose Agar.  Identifikasi bakteri dilakukan melalui pewarnaan Gram dan jamur dilakukan dengan pewarnaan menggunakan methylene blue.  Burung kakatua pada penelitian ini hanya menunjukkan tanda klinis berupa alopesia tanpa adanya gejala lain yang biasanya menyertai infeksi kulit, seperti kemerahan, bintik-bintik, pembengkakan, atau luka terbuka.  Alopesia pada burung kakatua di Bali Bird Park terjadi secara spesifik di area ventral, mencakup bagian dada dan perut.
HASIL: Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel burung kakatua positif mengandung bakteri dan jamur.  Bakteri yang teridentifikasi meliputi genus Staphylococcus, Streptococcus, dan Bacillus, sedangkan jamur yang ditemukan termasuk genus Candida dan Aspergillus.
SIMPULAN: Pada penelitian ini, alopesia yang diamati kemungkinan besar tidak disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur mengingat tidak adanya tanda-tanda khas infeksi.  Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengklarifikasi peran bakteri dan jamur tersebut pada alopesia burung kakatua.

Downloads

Published

2025-03-31

Issue

Section

Original Article