Dampak Dosis Etilen Glikol Terhadap Kualitas Semen Ayam Gaga dan Pengamatan Ultrastruktur Pascakriopreservasi

Authors

  • Muhammad Robbaani Mahasiswa Magister Program Studi Ilmu Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia. Author
  • Khaeruddin Khaeruddin Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Sinjai, Sulawesi Selatan 92615, Indonesia Author
  • Achadiah Rachmawati Departemen Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, 65145 Indonesia Author
  • Aulia Puspita Anugra Yekti Departemen Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, 65145 Indonesia Author
  • Ita Wahju Nursita Departemen Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, 65145 Indonesia Author
  • Sri Wahjuningsih Departemen Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, 65145 Indonesia Author

DOI:

https://doi.org/10.19087/

Keywords:

semen ayam gaga, kriopreservasi krioprotektan, etilen glikol

Abstract

Penelitian mengenai etilen glikol (EG) untuk kriopreservasi semen ayam gaga masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek EG sebagai krioprotektan spermatozoa selama proses pembekuan (kriopreservasi)  maupun pencairan (thawing)Penelitian ini menggunakan perlakuan yang mencakup 7% dimetil sulfoksida (DMSO) sebagai kontrol (P0), 5% EG (P1), 7% EG (P2), dan 9% EG (P3), masing-masing perlakuan dengan 10 ulangan dalam pengencer Ringer laktat kuning telur (RLKT). Evaluasi meliputi pengamatan pada sejumlah parameter antara lain, motilitas spermatozoa, viabilitas, abnormalitas, recovery rate, penurunan viabilitas pasca-pencairan, peningkatan abnormalitas dan ultrastruktur spermatozoa melalui pengamatan pada Field Emission-Scanning Electron Microscope (FE-SEM). Semen diperoleh dari tiga ayam gaga jantan berumur 10–12 bulan. Semen dikoleksi dengan metode pijat (massage). Semen yang diperoleh diencerkan dan diekuilibrasi (5°C, 2 jam),  pre-freezing (10 menit) dan disimpan dalam nitrogen (N2) cair (−196°C, 24 jam), dan dilakukan pengenceran (thawing) (37°C, 30 detik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa EG secara signifikan memengaruhi motilitas dan viabilitas spermatozoa pascapencairan (P < 0,05), tetapi tidak memengaruhi abnormalitas (P > 0,05). Spermatozoa pada perlakuan kontrol (P0) memiliki nilai recovery rate tertinggi dan penurunan viabilitas terendah, sementara EG 7% (P2) memberikan nilai recovery rate terendah. Penurunan viabilitas spermatozoa tertinggi terjadi pada EG 9% (P3). Abnormalitas spermatozoa terendah terjadi pada perlakuan EG 5% (P1) dan tertinggi pada perlakuan EG 9% (P3). Pemeriksaan FE-SEM menunjukkan adanya kerusakan pada akrosom spermatozoa setelah pembekuan dan sebagian besar bagian tengah masih utuh.

Downloads

Published

2026-03-26

Issue

Section

Articles