Laporan Kasus: Penanganan Babesiosis, Ehrlichiosis dan Helminthiasis pada Anjing Betina yang Mengalami Hiperestrogenisme

Authors

  • Tresna Putri Savanah Author
  • I Gede Soma Laboratorium Fisiologi, Farmakologi, dan Farmasi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana Author
  • Putu Ayu Sisyawati Putriningsih Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana Author

Keywords:

Hyperestrogenism, helminthiasis, babesiosis, ehrlichiosis

Abstract

Parasitosis dan penyakit hormonal umum menyerang anjing baik secara tunggal maupun kombinasi. Laporan ini menguraikan penanganan kasus babesiosis, ehrlichiosis, dan helminthiasis pada anjing betina yang mengalami hiperestrogenisme. Anjing kasus berumur tiga tahun dan merupakan anjing peranakan bernama Poppy, berbobot badan 7 kg, pemilik mengeluhkan anjing tersebut sering menggaruk-garuk tubuh, terdapat caplak, mengalami kerontokan ambut, dan tinjanya (feses) encer disertai butiran seperti beras putih dan bercak merah. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya infestasi parasit caplak Rhipicephalus sp., dan pinjal Ctenocephalides sp. Anjing mengalami alopesia simetris bilateral pada rambut di sekitar mata, daun telinga (pinna auricula) lateral dan ventral abdomen, ekstremitas kranial dan kaudal, serta perineal. Terdapat kulit bersisik (scale) pada wajah dan dorsal tubuh, perdarahan bawah kulit makula pada perineal, serta hiperpigmentasi pada ekstremitas kaudal. Mukosa mulut, konjungtiva, anus, dan vulva berwarna merah muda pucat. Pemeriksaan Complete Blood Count (CBC) menunjukkan anjing mengalami anemia mikrositik hipokromik dan trombositopenia. Pemeriksaan feses ditemukan proglotid cacing pita Dipylidium sp., dan telur cacing tambang Ancylostoma sp.. Pemeriksaan ulas darah ditemukan inklusi intraeritrositik dan intraleukositik dilanjutkan tes kit antigen parasit darah menunjukkan positif babesiosis dan ehrlichiosis. Pemeriksaan hormon menunjukkan terjadi peningkatan kadar estrogen di atas normal. Anjing kasus didiagnosis mengalami hiperestrogenisme disertai babesiosis, ehrlichiosis, dan helminthiasis (Dipylidium sp., Ancylostoma sp.). Pengobatan yang diberikan meliputi antiektoparasit sarolner, anihelmintik kombinasi pyrantel pamoat, praziquantel, fenbendazole, doxycycline, dan clindamycin. Diberikan pula sediaan obat penjaga kondisi tubuh yang mengandung ejiao (Asini Corii Colla), ginseng merah, akar Rehmannia, akar Codonopsis pilosula, dan Hawthorn) dan hemapoetikum yang mengandung zat besi, tembaga, asam folat, vitamin C, B6 dan B12. Anjing dimandikan dengan sampo yang mengandung antijamur dan antibakteri, yaitu Miconazole Nitrate dan Chloroxylenol, serta agen keratolitik Sulfur dan Natrium Sali-silat. Tindakan pembedahan ovariohisterektomi dilakukan untuk menangani hiperestro-genisme. Setelah pengobatan selama 14 hari, anjing kasus secara klinis dinyatakan sehat.

Downloads

Published

2026-09-30

Issue

Section

Articles

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

You may also start an advanced similarity search for this article.