Akulturasi Pada Bangunan Belanda Di Puri Agung Kerambitan Tabanan
Keywords:
Arsitektur, Akulturasi, Bali, KolonialAbstract
Arsitektur merupakan bentuk dari ruang tempat hidup manusia yang lebih dari sekedar fisik tetapi juga menyangkut pranata-pranata budaya dasar yang meliputi tata atur kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Kedatangan Belanda di wilayah Puri Agung Kerambitan menyebabkan terjadinya percampuran budaya antara budaya Belanda dengan budaya lokal setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk akulturasi pada bangunan Belanda di Puri Agung Kerambitan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data observasi, wawancara, dan studi pustaka dengan metode analisis data berupa analisis kualitatif, analisis stilistik, dan analisis arsitektural. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa akulturasi antara budaya Bali dengan Belanda dalam arsitektur bangunan terjadi sebagai hasil dari interaksi budaya yang berlangsung selama masa Kolonial. Gaya arsitektur Eropa memiliki konsep bangunan yang lebih fungsional sedangkan arsitektur tradisional Bali merupakan perwujudan keindahan alam dan manusia yang mengeras ke dalam bentuk bangunan berupa ragam hias yang digunakan. Bangunan Belanda ini menunjukkan penggunaan berbagai budaya seperti budaya Barat (Belanda), budaya Bali, Budaya Cina, dan Budaya Timur Tengah. Bangunan Belanda ini menjadi bukti bahwa meskipun terdapat pengaruh budaya asing, masyarakat Bali tetap mempertahankan identitas budaya lokalnya melalui ragam hias dan simbol yang penuh makna.
